
Visi seorang Rektor dalam membangun Green Digital University seringkali diartikan sebagai digitalisasi internal kampus. Namun, dalam perspektif pembangunan yang lebih luas, sebuah “Kampus Berkelanjutan” (Sustainable Campus) harus bertindak sebagai episentrum solusi bagi tantangan nasional. Salah satu tantangan paling mendesak di Indonesia saat ini adalah akses sanitasi layak di wilayah perdesaan—sebuah pilar utama dalam SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak).
Melalui program pengabdian masyarakat yang bertransformasi menjadi “KKN Digital”, mahasiswa kini menjadi agen perubahan yang membawa teknologi tepat guna ke pelosok negeri.
Revolusi Sanitasi: Dari Perilaku ke Teknologi Digital
Masalah sanitasi di Indonesia bukan hanya soal pembangunan fisik kakus, tetapi juga masalah data dan perilaku. Di sinilah peran “Digital” dalam Green Digital University menjadi krusial. Mahasiswa tidak lagi hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi membangun ekosistem sanitasi digital melalui:
-
Pemetaan Sanitasi Berbasis GIS (Geographic Information System): Mahasiswa menggunakan perangkat seluler untuk memetakan rumah tangga yang belum memiliki akses sanitasi layak secara real-time. Data ini diunggah ke platform digital yang dapat diakses oleh pemerintah desa untuk menentukan prioritas bantuan.
-
Aplikasi Edukasi Higiene “Gamified”: Mengubah cara sosialisasi pola hidup bersih dan sehat (PHBS) melalui aplikasi interaktif yang menarik bagi anak-anak desa, guna memutus rantai penularan penyakit berbasis air dan stunting.
-
Sistem Monitoring Limbah Cair Domestik: Mahasiswa teknik lingkungan dan informatika berkolaborasi menciptakan sensor murah untuk memantau efektivitas tangki septik komunal, memastikan tidak ada rembesan limbah yang mencemari sumber air warga.
Sinergi dengan Program Kerja Rektor dan SDG 6
Langkah ini merupakan implementasi langsung dari target SDG 6.b, yaitu mendukung dan memperkuat partisipasi masyarakat lokal dalam meningkatkan pengelolaan air dan sanitasi.
Rektor yang visioner memahami bahwa Sustainable Campus adalah kampus yang alumninya memiliki “literasi keberlanjutan”. Dengan mengirim mahasiswa untuk melakukan intervensi sanitasi digital, universitas sedang mencapai dua hal sekaligus:
-
Target Akademik: Menghasilkan lulusan yang mampu memecahkan masalah kompleks dengan pendekatan multidisiplin (Teknologi + Sosial + Lingkungan).
-
Target SDG: Memberikan kontribusi nyata dalam menurunkan angka Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di Indonesia melalui inovasi yang terukur.
Inovasi “Social Technopreneurship” di Perdesaan
Mahasiswa dalam kerangka Green Digital University didorong untuk menjadi social technopreneurs. Mereka tidak hanya memberikan solusi gratis, tetapi membangun sistem ekonomi sirkular. Misalnya, mendigitalisasi pengelolaan limbah sanitasi menjadi pupuk organik yang bisa diperjualbelikan oleh BUMDes (Badan Usaha Milik Desa).
Teknologi digital memastikan seluruh proses—mulai dari pengumpulan limbah hingga distribusi pupuk—tercatat secara transparan dan efisien. Inilah wujud nyata dari “Green Economy” yang diajarkan di kampus dan diterapkan di masyarakat.
Kesimpulan
Sanitasi adalah fondasi dari martabat manusia dan kesehatan publik. Melalui integrasi program Green Digital University dengan kebutuhan riil masyarakat desa, universitas tidak lagi menjadi “Menara Gading”, melainkan “Menara Air” yang menyalurkan solusi dan harapan.
Partisipasi mahasiswa dalam digitalisasi sanitasi adalah bukti bahwa teknologi digital, jika diarahkan dengan visi keberlanjutan yang kuat dari pimpinan universitas, mampu mempercepat pencapaian SDG 6 di Indonesia. Kampus bukan hanya tempat belajar tentang masa depan, tetapi tempat di mana masa depan yang bersih dan sehat mulai dikonstruksi.
